DECEMBER 9, 2022
Kolom

Angkatan Puisi Esai, Sebuah Angkatan Sastra Sui Generis

image
Ilustrasi - Denny JA dalam Festival Puisi Esai. (mediaindonesia.com)

Melihat kembali, polemik dan kehebohan tahun 2015 tentang puisi esai dan buku "33 Tokoh" memang terlihat konyol dan absurd, tetapi tetap akan tercatat dalam sejarah sastra Indonesia. Maka dapat dikatakan, bahwa karena puisi esailah, saya pun akan menjadi catatan pinggir dalam sejarah sastra Indonesia.

Dan kini, sepuluh tahun kemudian, di tahun 2024, saya berurusan lagi dengan puisi esai, kali ini dalam kaitan dengan sebuah seri buku berjudul "Angkatan Puisi Esai".

Akankah buku-buku ini, yang dapat dipahami sebagai postulat keberadaan sebuah "Angkatan Puisi Esai", kembali menimbulkan kontroversi tajam di kalangan publik sastra Indonesia?

Baca Juga: Merger Besar Fashion, Pemilik Coach Membeli Versace dan Michael Kors

Ini sudah bisa diduga, meskipun mungkin tidak akan mencapai tingkat sengit dan tidak objektifnya polemik di tahun 2015.

Mungkin kali ini akan ada lebih sedikit diskusi tentang apakah puisi esai memenuhi syarat sebagai genre sastra. Menyangkal hal ini memang sudah menjadi semakin sulit sejak Kamus Besar Bahasa Indonesia menggunakan istilah "puisi esai" sebagai istilah baku dan sejak ratusan penulis secara terus-menerus menuliskan karya yang mereka definisikan sebagai "puisi esai".

Agaknya, sehubungan dengan pencanangan "Angkatan Puisi Esai", peran Denny JA sebagai maesenas gagasan dan tujuannya sendiri akan kembali dikritik dengan menyatakan bahwa itu saja yang menyebabkan keberhasilan puisi esai dan kegiatannya yang lain di bidang sastra.

Baca Juga: Khairul Jasmi Sebut AI Hanya Alat Bantu, Bukan untuk Menuangkan Isi Pikiran Jurnalis

Banyak orang memang mengabaikan fakta bahwa ide yang buruk atau nonsense tidak akan bertahan lama, bahkan dengan dukungan pendanaan terbesar sekalipun, dan bahwa ide "puisi esai" sekarang sudah mapan dan tidak memerlukan promosi lagi. Tetapi, kemarahan (dan rasa putus asa) sebagian publik sastra Indonesia pasti akan berlanjut. Ini tidak mengherankan, karena memang sulit sekali untuk menerima bahwa seorang yang bukan sastrawan murni, apalagi penyair murni, memiliki pengaruh begitu besar terhadap sastra Indonesia modern, bahkan terhadap puisi kontemporer.

Mengenai gagasan dan proklamasi "Angkatan Puisi Esai", sikap saya sebenarnya tidak lepas dari berbagai pertimbangan skeptis yang bersifat dasariah.  Sejak dulu, sejak kuliah di jurusan sastra (Jerman dan Indonesia), saya sering tidak yakin dengan pengkotak-kotakan ke dalam era atau aliran, atau –seperti yang lazim terjadi di Indonesia– ke dalam "angkatan". Misalnya istilah "Angkatan 1945".

Bagi saya istilah itu tidak memiliki makna mencukupi, dan saya selalu menjelaskan kepada para mahasiswa saya di Universitas Bonn bahwa sastra Indonesia pada periode 1945-1966 dicirikan oleh pertentangan antara konsep Humanisme Universal dan Realisme Sosialis, hal yang sama sekali tidak diekspresikan oleh istilah "Angkatan 45", melainkan justru disembunyikan atau dikaburkan.

Baca Juga: Shin Tae yong Targetkan Hasil Terbaik di Piala AFF 2024 dan Siapkan Timnas U-22 untuk SEA Games

Selain itu, sebuah pikiran yang lebih mendasar yang menyebabkan keengganan saya untuk mengkategorikan karya sastra ke dalam era, aliran atau angkatan. Yang benar-benar penting dalam sastra selalulah sang karya individual, serta pertanyaan tentang kualitas isi dan bentuk yang dimilikinya dan apa yang sanggup disampaikannya kepada pembaca. Segala sesuatu yang lain adalah hal sekunder dan terutama menjadi urusan studi sastra dan sejarah sastra.

Halaman:
1
2
3
4

Berita Terkait