DECEMBER 9, 2022
Puisi

Puisi Esai Denny JA: Kabarkan Kisah Bunga yang Dipanah

image
Puisi Esai Denny JA: Kabarkan Kisah Bunga yang Dipanah (Istimewa)

Di rumah kayu di Amsterdam,
Multatuli menggenggam pena.
Ia mendengar suara-suara
yang tak pernah sampai ke istana.

Suasana berubah ketika ada yang menuliskannya.

Ia menulis Max Havelaar,
novel tentang petani dan penindasan.
Suara itu menggema hingga istana.

Baca Juga: Perbedaan Vasektomi dan Kebiri: Prosedur dan Dampaknya pada Kesehatan Pria

Suasana berubah ketika ada yang menuliskannya.

Elit Belanda membacanya dengan dada terbakar.
“Apakah ini yang kita banggakan?”

Suasana berubah ketika ada yang menuliskannya.

Baca Juga: IHSG Ditutup Melemah, Terimbas Pelemahan Bursa Asia dan Ketidakpastian Kebijakan Bank Sentral Jepang

Politik etis lahir dari pena itu.
Sekolah-sekolah berdiri,
para pribumi belajar huruf dan kata.
Dari huruf itu mereka merangkai suara,
dari suara itu mereka mencipta obor,
dari obor itu mereka menerangi jalan,
menuju kemerdekaan.

Suasana berubah ketika ada yang menuliskannya.

Seperti gunung menyembunyikan kawah,
seperti sungai menyembunyikan deras,
tulisan membuka yang terkubur.
Kisah yang tersimpan ratusan tahun,
akhirnya memecah batu-batu kesunyian.

Baca Juga: KAI Terbitkan Obligasi dan Sukuk Rp2 Triliun untuk Pengembangan Infrastruktur

Di ruangan ini, kita berkumpul.
Dari Aceh hingga Papua,
dari Asia Tenggara hingga Kairo.

Halaman:
1
2
3
4

Berita Terkait