Catatan Denny JA: Hukum Kelima Hidup Bermakna, Spiritualitas dan Wellness
- Penulis : Imron Fauzi
- Minggu, 27 Oktober 2024 14:46 WIB

Dalam praktik spiritual yang otentik, kita diajak untuk menemukan kedamaian dan kebijaksanaan dalam setiap tantangan. Ini bukan sekadar menenangkan diri, tetapi sebuah perjalanan untuk memandang hidup dengan perspektif yang lebih luas.
Dunia spiritualitas itu bisa dihidupkan dari sisi esoteris agama apa saja, dan juga bisa dari luar agama. Sumber spiritualitas memang bukan di kitab suci satu agama saja, tapi berada di syaraf homo sapiens.
-000-
Kritik terhadap Spiritualitas: Jalan untuk Melarikan Diri?
Namun, spiritualitas bukan tanpa kritik. Bagi sebagian orang, praktik spiritual dianggap sebagai cara melarikan diri dari realitas atau mengabaikan kebutuhan nyata akan bantuan profesional.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa 15% orang yang mengalami depresi klinis menunda mencari bantuan medis karena memilih terapi spiritual.
Baca Juga: Sekda Katingan Instruksikan Jajaran Dinas Semakin Kreatif Gali Sumber PAD
Kasus ini menunjukkan pentingnya pemahaman bahwa spiritualitas melengkapi, bukan menggantikan, tindakan medis nyata.
Sepanjang sejarah, terdapat kasus manipulasi ajaran spiritual untuk pengaruh dan kekuasaan. Dalam penelitian oleh National Institutes of Health, dicatat bahwa 23% penyintas manipulasi spiritual melaporkan trauma psikologis yang berkelanjutan akibat penggunaan ajaran spiritual untuk kontrol sosial.
Kritik ini mengingatkan bahwa spiritualitas sejati membawa kedamaian dan kebijaksanaan, bukan manipulasi.
Baca Juga: Bantal Kereta Cepat Whoosh Hilang, KCIC Imbau Penumpang Agar Tak Merusak Fasilitas
Spiritualitas yang sejati membantu kita berdiri tegak di tengah dunia nyata. Ia menguatkan, bukan menggoyahkan langkah kita.