Catatan Denny JA: Untuk Mereka yang Terbuang di Tahun 1960-an
- Penulis : Imron Fauzi
- Minggu, 06 Oktober 2024 18:32 WIB

Konflik-konflik ini menggambarkan betapa rapuhnya kebebasan politik jika tidak disertai dengan keadilan sosial dan kerukunan antar-komunitas.
Buku ketiga adalah “Yang Tercecer di Era Kemerdekaan” (2024), yang menyoroti derita para korban kolonialisme dan pendudukan Jepang di Indonesia.
Buku ini mengisahkan nasib para pekerja Romusha yang dipekerjakan paksa oleh penjajah Jepang, gadis-gadis pribumi yang dipaksa menjadi penghibur tentara Jepang, serta perempuan pribumi yang dijadikan gundik oleh tuan-tuan Belanda, yang dikenal sebagai para Nyai.
Baca Juga: Kontribusi WIKA di Proyek Tol Cisumdawu yang Baru Diresmikan Jokowi
Buku ini mengangkat suara-suara mereka yang terlupakan dalam narasi besar perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Ada juga buku puisi esai: Kutunggu di Setiap Kamis (2018). Buku ini merekam keluarga yang setiap kamis unjuk rasa dengan payung hitam, mencari anggota keluaganya, yang tak kunjung pulang.
Buku tentang eksil tahun 1960-an ini melanjutkan upaya saya untuk merekam sejarah Indonesia dari perspektif korban. Mereka tidak selalu menjadi sorotan utama dalam narasi besar sejarah nasional.
Baca Juga: Perusahaan Sawit Maktour mengundang perkebunan terkenal untuk menghasilkan tanaman berkualitas
Setiap buku dalam rangkaian ini adalah upaya untuk memberikan suara kepada mereka yang suaranya hilang dalam hiruk-pikuk sejarah.
-000-
Kembali ke Indonesia bukan hanya soal fisik. Ini adalah tentang pemulihan identitas, tentang penerimaan dari negara yang pernah menganggap mereka pengkhianat.
Namun, tanah air yang mereka rindukan mungkin tak lagi sama. Reformasi telah membawa banyak perubahan, dan mungkin tanah itu tak lagi mengenal mereka seperti dulu.