Inspirasi Politik dari Mata Air Bung Karno dan Sjahrir: Pengantar dari Denny JA untuk Buku Puisi Esai Isti Nugroho
- Penulis : Imron Fauzi
- Kamis, 04 Juli 2024 09:27 WIB

BISNISABC.COM - “Manusia bisa mati. Negara bisa jatuh dan hilang. Tetapi gagasan yang kuat akan terus hidup dari generasi ke generasi.”
Demikianlah kutipan dari John F. Kennedy. Ini yang teringat ketika saya membaca puisi esai Isti Nugroho berjudul: Berkisar di antara Soekarno dan Sjahrir.
Dua pendiri negara itu, Bung Karno dan Bung Sjahrir, sudah wafat puluhan tahun lalu. Tapi gagasannya terus hidup. Gagasan mereka juga hidup dalam sikap politik Isti Nugroho. Ia ekspresikan itu lewat kata-kata:
Baca Juga: Spesifikasi Samsung Galaxy S24 Ultra, Smartphone dengan Segudang Fitur Canggih
“Di antara Soekarno dan Sjahrir
Kutemukan dua mata air.
Deras mengalir ke tanah-tanah kering.
Menjelma jadi sungai-sungai bening.”
Isti Nugroho menceritakan perjumpaannya dengan pemikiran Bung Karno dan Bung Sjahrir melalui metafora:
“Semasa kecil aku suka mandi di sungai yang dijaga Pak Marhaen
Baca Juga: Optimalkan Rest Area Puncak, Pemkab Bogor Integrasikan dengan Wisata Gunung Mas
Suara deburan dan kecipak air mengiringi nyanyian kami:
”Amerika kita setrika, Inggris kita linggis!”
Pak Marhaen tersenyum, sambil mengayunkan cangkulnya di sawah atau menatap gubuknya yang mengepulkan asap putih.”
“Istriku masak ketela, kalian makanlah!” ucapnya seru, suaranya seperti memanggil burung-burung.”
Baca Juga: Tumbangkan Laos dengan Skor 6-1, Timnas Indonesia U16 Maju ke Semifinal
Isti Nugroho juga mengisahkan pertemuannya dengan pemikiran Bung Sjahrir dengan simbol.