Puisi Esai Denny JA: Ketika Anakku Kecanduan Internet
- Penulis : Imron Fauzi
- Sabtu, 07 Desember 2024 18:29 WIB

Ia ditelan gelombang digital tanpa tepi. Ia hilang di dalam ponsel. Ia mengurung diri, hanya bicara pada layar kaca. Membangun tembok tak terlihat di antara kami.
Lalu datang pagi-pagi yang sunyi. Tugas sekolahnya tertinggal di sudut-sudut waktu.
Matanya merah,
digerogoti malam-malam tanpa tidur.
Tubuhnya layu.
David kini pohon yang kehilangan akarnya.
Oh, anakku menghilang sudah.
Ia menjadi asing,
Seperti cermin retak yang tak lagi memantulkan dirinya sendiri.
Baca Juga: Gelar Jalan Sehat dan Sajian Kuliner Legendaris, Pemkot Bogor Gandeng Kadin
Kami mencoba melawan arus itu. Mematikan Wi-Fi, menyembunyikan ponselnya. Tapi ia marah, seperti binatang terluka.
Ia berteriak, memecahkan barang. Meninggalkan kami dalam kepedihan yang bisu. Cinta kami tak cukup untuk menariknya kembali.
Akhirnya, kami menyerah. David butuh lebih dari sekadar pelukan kami. Kami membawanya ke pusat rehabilitasi. Ia dirawat khusus, di rumah sakit.
Baca Juga: Infinix Siap Luncurkan Ponsel Terbaru HOT 50i dan Smart 9 di Indonesia pada 7 Oktober 2024
Kami hanyalah pelaut di tengah badai, melawan ombak digital yang tak mengenal pantai.
David semakin jauh,
dan kapal
kami tak mampu mengejarnya.
Di sana, di rumah sakit,
layar dimatikan,
Hidup perlahan dinyalakan kembali.
David belajar menghirup udara tanpa Wi-Fi. Ia mencoba melukis, Garis-garisnya gemetar, tapi penuh asa.
Baca Juga: Perbedaan Vasektomi dan Kebiri: Prosedur dan Dampaknya pada Kesehatan Pria
“Ini perjalanan panjang,” kata terapisnya.