Empat Personel UNIFIL Terluka Akibat Serangan di Tengah Konflik Israel-Lebanon
- Penulis : Imron Fauzi
- Senin, 25 November 2024 22:41 WIB

BISNISABC.COM - Empat anggota pasukan penjaga perdamaian PBB di Lebanon (UNIFIL) terluka dalam serangan terbaru di wilayah yang terus menjadi medan konflik antara Israel dan kelompok Hizbullah.
Para korban termasuk personel dari Ghana, dengan tiga di antaranya harus mendapatkan perawatan di rumah sakit.
Selama beberapa bulan terakhir, pasukan UNIFIL sering menjadi target serangan dalam konflik berkepanjangan ini.
Baca Juga: Perbedaan Vasektomi dan Kebiri: Prosedur dan Dampaknya pada Kesehatan Pria
Bahkan, dua prajurit TNI yang tergabung dalam Kontingen Garuda UNIFIL turut menjadi korban, terluka akibat tembakan tank Merkava Israel yang menghantam menara pengamatan di Markas UNIFIL di Naqoura, Lebanon Selatan.
UNIFIL melaporkan bahwa sejumlah lokasi mereka, termasuk pos-pos terdepan dan markas utama, sering kali menjadi sasaran serangan dari militer Israel. Beberapa pangkalan milik kontingen Italia juga terdampak.
Selain itu, pasukan Israel dilaporkan melanggar Garis Biru, yakni garis demarkasi yang ditetapkan PBB pada tahun 2000 sebagai batas sementara antara Lebanon dan Israel pasca-penarikan pasukan Israel dari Lebanon Selatan.
Baca Juga: Khairul Jasmi Sebut AI Hanya Alat Bantu, Bukan untuk Menuangkan Isi Pikiran Jurnalis
Perwakilan Italia di UNIFIL mengecam keras serangan tersebut dan menyatakan bahwa tindakan Israel tidak dapat diterima.
Sekretaris Jenderal PBB António Guterres mengecam keras serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian.
Ia menyerukan agar semua pihak yang terlibat konflik mematuhi kewajiban internasional untuk melindungi keselamatan pasukan penjaga perdamaian, termasuk kontingen dari Indonesia.
Baca Juga: Oppo Find X8 dan Find X8 Pro Resmi Hadir di Indonesia, Usung Chipset Tangguh dan Kamera Hasselblad
“Pasukan penjaga perdamaian memainkan peran penting dalam menjaga stabilitas dan mencegah eskalasi konflik lebih lanjut. Mereka harus dihormati dan dilindungi,” tegas Guterres.