
Di negeri ini, negeri asing,
yang tak pernah kubayangkan jadi tempatku menetap.
Aku menjadi perahu terdampar di pantai asing,
bertahan, tapi tak pernah benar-benar berlabuh.
Mereka memberiku atap untuk berlindung,
sejumput hak,
dan kehormatan yang dingin, seperti mantel yang melindungi tubuh, namun tak pernah menghangatkan jiwa yang mulai rapuh.
Baca Juga: CEO Citi Indonesia memastikan bahwa akuisisi UOB akan selesai pada akhir tahun 2023
Tapi lihatlah hatiku.
Ia tertinggal di antara sawah menguning di Wonosobo,
di bawah langit yang senantiasa berubah,
di tanah yang tak pernah benar-benar hilang dari ingatan.
Tapi pulang? Pulang itu apa, kawan?
Aku memang rindu suara hujan di atap seng,
rindu harum tanah basah yang dulu kusapa setiap pagi di rumah ibu, di pinggir sawah.
Namun, apakah tanah itu masih mengenalku?
Baca Juga: Museum Topeng Cirebon Resmi Dibuka Gratis untuk Umum! Ini Keunikan yang Ditawarkan
Apakah aku masih punya hak untuk berdiri di atasnya,
atau hanya bayangan yang tak lagi diingat?
Politik telah berubah,
reformasi katanya, pintu terbuka,
namun aku tetap terperangkap.
di antara kerinduan yang terus menggeliat
dan ketakutan yang tak kunjung padam.
Tubuhku renta,
di sini mereka memberiku kursi empuk,
segelas teh hangat,
dan janji bahwa aku tak perlu takut hari tua.
Baca Juga: MPR Bebaskan Nama Soeharto dari TAP MPR tentang Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme
Tapi apakah itu cukup?
Apakah kursi empuk bisa menggantikan kerasnya rotan ibu?
Apakah teh hangat bisa menghapus kenangan kelapa segar
yang kuteguk di bawah terik matahari kampung halaman?