Catatan Denny JA: Ibu, Kukirim Nyawaku Padamu, Sampaikah?
- Penulis : Imron Fauzi
- Sabtu, 21 September 2024 09:12 WIB

Bujana,
asal Bali,
tumbuh di bawah bendera revolusi.
Ia pohon muda yang menari dalam angin cita-cita.
Tahun 1960-an,
Indonesia mengirimnya untuk belajar,
ke Yugoslavia,
menjadi mata dan tangan revolusi.
Ia pecinta Bung Karno,
tergetar oleh gema perjuangan.
Bintang berdansa di jiwanya,
ketika menerima kabar,
beasiswa dari sang Pemimpin,
untuk belajar dan menguatkan revolusi.
Namun revolusi tumbang,
bersama Bung Karno,
bersama impian.
Tumbang pula harapan.
Jika pulang, penjara menanti.
Jika tak pulang, paspor pun terhapus.
Ia terombang-ambing,
menjadi daun gugur,
tak lagi memiliki tempat untuk jatuh.
Ia bukan lagi milik bumi mana pun.
Ia adalah pohon diterbangkan badai,
tercabut dari akar,
mengembara di langit kosong,
menunggu jatuh di tanah yang tak pernah datang.
Baca Juga: Resep Nasi Goreng: Menu Masakan Rumahan yang Tak Pernah Membosankan
-000-
“Ah, rindu kampung halaman,
mengoyak tiap sudut jiwaku."
Bujana ingin mencicipi rasa masa lalu,
Jaje kelepon kini hanya ilusi,
jagung urap hadir dalam mimpi.
Baca Juga: Erick Thohir Berharap Marselino Ferdinan Dapat Kesempatan Bermain di Oxford United
Bau masakan ibu,
Ayam Betutu yang semerbak,
Nasi Jinggo menyelimuti malam.