DECEMBER 9, 2022
Kolom

Imajinasi Faktual dalam Lukisan Denny JA

Semua unsur itu kemudian digabungkan, dan lantas dicetak di atas kanvas.

Kita bisa membayangkan betapa kerumitan akan muncul ketika pelukis harus menggubah adegan-adegan kolosal yang memerlukan kompleksitas pergerakan.

Ada figur yang menunduk, ada yang tegak, ada yang jongkok. Ada figur yang tersenyum simpul, ada yang muram, ada yang tertawa lebar, dan ada yang menitikkan air mata.

Baca Juga: Podcast Meghan Markle Tidak Akan Dilanjutkan karena Kesepakatannya dengan Spotify Berakhir

Ada satwa yang melompat kabur, ada tetumbuhan yang sedang tumbuh subur. Di sini, kemampuan seorang pelukis dalam memverbalisasi bentuk - demi memformat perintah atas perangkat AI - sangat diperlukan.

Denny mampu melakukan itu dengan baik. Ia menyebut bahwa AI adalah asisten seni yang secara cermat ia didik.

Lalu, untuk memasukkan unsur rasa serta emosi, Denny melakukan campur tangan dengan membuat sentuhan langsung dengan kuas, pena, pisau palet, dan sebagainya. Sehingga memunculkan sapuan dan garis manual, goresan dan pulasan spontan, tekstur, lelehan cat, dan semacamnya. 

Baca Juga: Antisipasi Kenaikan Harga Cabai, Pemkab Gorontalo Gelar Pasar Murah

Intervensi manual ini sering berfungsi sebagai finishing touch, dan menjadikan lukisan sebagai karya yang punya sentuhan jiwa pribadi. Agar karya tidak didominasi oleh perupaan hasil program text-to-image generator yang difasilitasi mesin generatif AI.

Metodologi penciptaan lukisan seperti ini belum pernah dilakukan secara total oleh seniman sebelumnya, kecuali oleh Denny JA.

-000-

Baca Juga: Dibanderol Mulai Rp4,2 Juta, OPPO Reno12 F Series Resmi Meluncur

Seni lukis - menengok dari awal - pada mulanya divisualkan dengan bahan getah tetumbuhan dan darah hewan, seperti yang tampak pada lukisan primitif di Goa Altamira sampai Goa Leang-Leang. (Temuan yang menghasilkan lukisan cat air).

Halaman:
1
2
3
4
5
6
7
8
9

Berita Terkait