Catatan Denny JA: Neuroscience, Samudra Spiritualitas Berakar di Saraf Manusia
- Penulis : Imron Fauzi
- Sabtu, 09 November 2024 14:50 WIB

Pencarian makna ini tidak hanya memuaskan pikiran kita, tetapi juga memperkaya kondisi biologis kita, memberikan stabilitas emosi yang mendalam.
Bahkan, spiritualitas memegang peran evolusioner penting. Kebaikan, empati, dan hubungan sosial yang kuat—produk dari dorongan spiritual—membantu manusia bertahan sebagai spesies.
Komunitas yang didasarkan pada spiritualitas cenderung lebih kohesif dan lebih tangguh dalam menghadapi tantangan hidup.
Baca Juga: UBS membeli Credit Suisse dalam upaya menghentikan krisis perbankan
-000-
Menghadapi Kritik: Apa Makna dari Spiritualitas Biologis?
Ada beberapa kritik yang menyebut bahwa jika spiritualitas dijelaskan sepenuhnya sebagai proses biologis, maknanya akan terdegradasi menjadi sekadar reaksi kimia.
Baca Juga: Bappelitbangda Sebut Ekonomi Pasaman Barat Tumbuh 4,3 Persen pada Tahun 2023
Apakah pencarian makna hidup hanyalah ilusi yang dipicu oleh mekanisme otak? Apakah ini mengurangi kedalaman pengalaman spiritual kita?
Jawaban yang lebih dalam justru terletak pada pemahaman ini. Neuroscience tidak mengurangi makna spiritualitas, melainkan menegaskan betapa pentingnya elemen ini bagi kehidupan kita.
Sama seperti mengetahui bagaimana otot bekerja tidak mengurangi keindahan sebuah tarian, memahami cara kerja saraf dalam spiritualitas hanya memperkaya pemahaman kita akan kebutuhannya dalam hidup.
Baca Juga: Lama Dikeluhkan Warga, Pemkab Bogor Perbaiki Jalan Penghubung Desa Cikeas Udik-Bojong Nangka
Otak kita diciptakan untuk mencari makna, dan ini adalah anugerah evolusi yang harus kita rayakan.