DECEMBER 9, 2022
Bisnis

Ekonom Universitas Brawijaya Sebut Industri Manufaktur RI Masih Terkuat di ASEAN

image
Ekonom sebut industri manufaktur RI masih terkuat di ASEAN (Antara)

BISNISABC.COM - Ekonom Universitas Brawijaya, Wildan Syafitri mengatakan industri manufaktur Indonesia masih yang terkuat di kawasan Asia Tenggara (ASEAN).

Hal ini dikatakan Ekonom Universitas Brawijaya mengingat total nilai tambah manufaktur (manufacturing value added/MVA) RI mencapai 255 miliar dolar AS.

"Pencapaian sektor industri manufaktur Indonesia patut diapresiasi karena ini adalah pencapaian yang positif," kata Wildan, seperti dikutip dari Antara pada 25 Juli 2024.

Baca Juga: Podcast Meghan Markle Tidak Akan Dilanjutkan karena Kesepakatannya dengan Spotify Berakhir

"Mengingat dalam situasi krisis justru Indonesia dapat meningkatkan efisiensi industri manufaktur,” imbuhnya.

Ia menjelaskan, dalam lima tahun terakhir data MVA Indonesia yang dirilis Bank Dunia menunjukkan peningkatan yang signifikan.

Dalam data terakhir yang dirilis, angka nilai tambah manufaktur Indonesia jauh di atas negara anggota ASEAN lainnya, seperti Thailand dan Vietnam yang nilai MVA hanya setengah dari Indonesia, yakni masing-masing 128 miliar dolar AS, serta 102 miliar dolar AS.

Baca Juga: Diam-diam Bukalapak PHK Karyawan, Simak Berikut Ini

Sementara dari sisi kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), sektor industri pengolahan nonmigas pada triwulan I 2024 menjadi penyumbang terbesar, yaitu 17,47 persen dengan pertumbuhannya sebesar 4,64 persen.

Di sisi ekspor, nilai pengiriman produk industri pengolahan nonmigas pada semester I tahun 2024 mencapai 91,65 miliar dolar AS atau setara 73,27 persen dari total ekspor nasional, dengan penyerapan tenaga kerja sebanyak 18,82 juta orang.

"Tren positif ini dapat kita maknai sebagai peningkatan efisiensi industri. Kondisi ini juga cerminan dari kekuatan industri dalam memberikan kontribusi pada perekonomian Indonesia merupakan cerminan dan gambaran dari sejauh mana kekuatan industri dalam perekonomian nasional,” katanya.

Baca Juga: Ringankan Beban Ekonomi Masyarakat, Pemkab Batang Gelar Paket Tebus Murah Sembako

Lebih lanjut, ia mengatakan performa tersebut didorong karena Indonesia bisa memanfaatkan krisis rantai pasok (supply chain) akibat perang Rusia-Ukraina, peran dari pembangunan infrastruktur, investasi, serta peningkatan kemampuan sumber daya manusia (SDM).

Halaman:
1
2
Sumber: Antara

Berita Terkait