Catatan Denny JA: Air Mata Jurnalis Perang, Inspirasi dari Film Lee
- Penulis : Imron Fauzi
- Jumat, 25 Oktober 2024 08:36 WIB

BISNISABC.COM - “Korban perang tidak selalu jatuh di medan tempur; banyak yang tenggelam dalam kengerian yang tak terucapkan. Mata yang melihat kebrutalan menyimpan luka yang membisu, namun berdarah selamanya."
Perang adalah kehancuran yang merambah jauh ke dalam jiwa manusia. Tidak hanya pada mereka yang terjebak di dalamnya, tetapi juga pada saksi-saksi mata yang merekam, melaporkan, dan mencoba mengerti.
Dalam psikologis, ada istilah PTSD. Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) akibat perang terjadi ketika individu mengalami trauma mendalam dari peristiwa brutal, memicu gangguan psikologis jangka panjang.
Baca Juga: Bantal Kereta Cepat Whoosh Hilang, KCIC Imbau Penumpang Agar Tak Merusak Fasilitas
Gejala termasuk kilas balik, mimpi buruk, kecemasan, dan kesulitan berfungsi dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi seorang jurnalis perang, pertarungan tidak hanya di medan tempur, tetapi juga di dalam diri sendiri—di antara keinginan untuk memberitahu dunia dan trauma yang terus menghantui.
Lee Miller, seorang wanita yang menjalani kehidupan luar biasa, adalah bukti hidup bahwa perang menghancurkan lebih dari yang tampak di permukaan.
Baca Juga: Jota Tampil Memukau sebagai Penyerang Tengah, Liverpool Menang 2-0 atas Ipswich Town
-000-
Luka Batin Sang Saksi Mata
Lee Miller, seorang wanita yang pernah menjadi ikon kecantikan di dunia mode. Ia menjalani transformasi hidup yang mengantarkannya menjadi salah satu saksi terpenting dari kehancuran manusia selama Perang Dunia II.
Baca Juga: Sriwijaya FC Kalahkan Persikabo 1973 dengan Skor 5-1: Chencho Jadi Bintang Pertandingan
Ia tidak hanya menyaksikan pertempuran di garis depan sebagai jurnalis perang, tetapi juga menyaksikan kekejaman di kamp konsentrasi Nazi yang dibebaskan. Pengalaman-pengalaman ini meninggalkan luka mendalam pada batinnya.