PUISI Puisi Denny JA: Kuburan Mereka Berserakan di Berbagai Negara
- Penulis : Imron Fauzi
- Minggu, 06 Oktober 2024 13:00 WIB

Paspor dicabut, tanah air menutup pintunya.
Malik menjadi daun yang gugur di tanah asing,
terhempas jauh dari akar,
terisolasi di tempat yang tak pernah memanggilnya pulang.
Ia ingat malam itu, ketika kabar dari Indonesia menyapa,
badai yang menghantam,
meninggalkan kekosongan dalam hatinya.
Teman-temannya ditangkap, keluarganya diinterogasi,
dan namanya yang dulu ia banggakan,
perlahan lenyap dari ingatan orang-orang,
seperti halaman koran yang tertiup angin,
terkoyak, hilang tak berjejak.
Baca Juga: Pemprov Maluku Hendak Kembangkan Tradisi Abdau Tulehu Sebagai Agenda Wisata Nasional
Puluhan tahun ia hidup di Albania,
tak boleh pergi jauh,
bekerja apa saja untuk bertahan hidup.
Hari demi hari, ia hanya ditemani sunyi dan penantian,
sementara tanah airnya terasa semakin jauh.
Namun, dari luka dan duka yang tak pernah sembuh,
lahirlah pohon-pohon kata dalam dirinya.
Baca Juga: Jota Tampil Memukau sebagai Penyerang Tengah, Liverpool Menang 2-0 atas Ipswich Town
Renungan getirnya menjelma daun-daun syair,
mengisi kekosongan yang tak terjawab oleh apapun.
Sastra menjadi napas baru bagi Malik,
membuatnya terus hidup, meski tubuhnya terkubur di negeri asing.
Ia tak lagi meneriakkan keadilan di jalanan,
kini ia menuliskannya dalam puisi.
Dalam setiap bait yang ia tulis,
ada air mata yang tertumpah.
Baca Juga: MPR Bebaskan Nama Soeharto dari TAP MPR tentang Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme
Dari seorang aktivis yang lantang,
Malik berubah menjadi penyair yang sunyi.