Puisi Denny JA: Kulihat Raksasa Itu Tumbang
- Penulis : Imron Fauzi
- Minggu, 29 September 2024 09:30 WIB

BISNISABC.COM - Di tahun 1960-an, Mualim dikirim ke Moskow untuk belajar. Prahara politik dekade itu membuatnya tak bisa pulang, dan mengubah hidupnya.
-000-
Apa yang bisa diharap oleh daun,
yang lepas dari pohon,
melayang tanpa arah,
diombang-ambingkan angin?
Baca Juga: Usai Bungkam LavAni, Jakarta Bhayangkara Presisi Juara Proliga 2024
"Akulah daun itu," kata Mualim,
dihempaskan oleh ilusi revolusi,
hilang, tanpa tahu di mana berakhir.
Di Moskow, di masa tua,
Mualim kedinginan.
Namun, hatinya lebih beku.
Kebun di dadanya, dulu penuh bunga
dan yel-yel revolusi,
kini layu, tersisa luka yang menganga.
Baca Juga: Resep Kimchi Korea: Cara Membuat Acar Pedas yang Lezat dan Sehat dengan Bahan Lokal
Ia menatap patung Lenin.
Angin membawa ingatannya jauh,
ke masa Indonesia menyala,
ketika revolusi adalah mantra.
Mualim, pemuda penuh api,
dikirim Bung Karno sekolah ke Moskow
Belajar untuk bangun negeri,
lalu kelak memetik bintang. (1)
Tapi api itu padam.
Bung Karno jatuh.
Zaman berbelok arah.
Mualim menjadi bagian dari cerita lama.
Baca Juga: Tanda-Tanda Luar Biasa Saat Kelahiran Nabi Muhammad SAW yang Jarang Diketahui!
Pulang berarti penjara,
paspor dicabut,
ia melayang,
warga tanpa negara.