In Memoriam: Faisal Basri dan Nyanyian Suara Kritisnya di Mata Denny JA
- Penulis : Imron Fauzi
- Jumat, 06 September 2024 10:14 WIB

BISNISABC.COM - “Orang yang hanya tahu sisi pandangannya sendiri soal satu isu, ia sesungguhnya tidak tahu banyak soal isu itu. Ia boleh saja merasa argumennya soal isu itu sangat kuat. Tapi jika ia belum mendengar pandangan lain yang berlawan soal isu itu, kuat atau tidak argumennya belumlah teruji.” (John Stuart Mill)
“Kritik mungkin tidak menyenangkan, tapi itu rasa tak menyenangkan yang penting. Kritik itu berfungsi seperti rasa sakit dalam tubuh kita. Kritik memberi tahu kita bahwa ada yang tidak beres dalam kebijakan publik.” (Winston Churchill)
Kutipan dua tokoh inilah yang teringat ketika mengetahui wafatnya Faisal Basri. Sepanjang perannya di ruang publik, Faisal Basri bersuara sangat kritis, sangat berani, lantang, bicara apa adanya.
Baca Juga: Jadwal Semifinal Sepakbola di Olimpiade Paris: Maroko vs Spanyol, Prancis vs Mesir
Faisal bisa begitu terbuka mengkritik, bukan saja karena ia punya passion, dan memiliki integritas. Tapi berani karena ia juga berbasis data dan riset. Sangat sedikit di tanah air mereka yang mengkritik dengan keras namun menggunakan riset dan data.
Hal yang biasa jika pihak yang dikritiknya merasa tak nyaman. Namun, ruang publik hanya sehat jika juga diisi oleh nyanyian suara kritis seperti yang diperankan Faisal Basri.
Mengenang Faisal Basri, saya teringat peran kritis yang juga dilakukan ekonom kepada pemerintah negaranya sendiri, yaitu Thomas Piketty (Prancis) dan Amartya Sen (India).
Baca Juga: 9.912 Narapidana di Riau Terima Remisi HUT RI,Pj Gubernur: Motivasi untuk Selalu Berperilaku Baik
-000-
Sepanjang nyanyian kritisnya, ada tiga isu utama yang sering menjadi fokus Faisal Basri: korupsi dan kroniisme, ketimpangan ekonomi, serta kebijakan publik yang tidak berpihak pada kepentingan nasional.
Faisal Basri sangat vokal menentang korupsi dan kroniisme. Ia menganggap ini sebagai penyakit utama yang merusak perekonomian dan pemerintahan Indonesia.
Baca Juga: Fluktuasi Harga Kebutuhan Pokok di Kabupaten Kudus, Ada Kenaikan dan Penurunan di Pekan Ini
Menurutnya, korupsi dan kroniisme bukan sekadar masalah etika, tetapi juga akar dari banyak masalah ekonomi yang dihadapi bangsa ini.