IHSG Melemah di Tengah Penguatan Bursa Asia, Dipengaruhi Data Ekonomi China dan Inflasi Domestik
- Penulis : Imron Fauzi
- Senin, 02 Desember 2024 19:49 WIB

BISNISABC.COM - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin sore ditutup melemah meskipun bursa saham Asia cenderung menguat. IHSG turun 67,28 poin atau 0,95 persen ke level 7.046,99.
Sementara itu, indeks LQ45 yang terdiri dari saham-saham unggulan juga melemah 12,97 poin atau 1,51 persen ke posisi 843,81.
Menurut Tim Riset Pilarmas Investindo Sekuritas, penguatan bursa Asia didorong oleh optimisme pelaku pasar terhadap sektor manufaktur China yang menunjukkan tanda-tanda ekspansi.
Baca Juga: Perusahaan Sawit Maktour mengundang perkebunan terkenal untuk menghasilkan tanaman berkualitas
Data PMI manufaktur China untuk November 2024 mencatatkan pertumbuhan aktivitas pabrik tertinggi dalam lima bulan terakhir, didukung oleh peningkatan produksi dan pesanan baru.
Ini merupakan bulan kedua berturut-turut sektor manufaktur China mengalami kenaikan sejak diberlakukannya berbagai stimulus oleh pemerintah setempat sejak akhir September 2024.
Selain itu, pasar juga berharap Bank Sentral China (PBoC) akan melanjutkan pelonggaran moneter, termasuk pemangkasan suku bunga acuan dan pemberian stimulus tambahan.
Baca Juga: Menkomdigi Meutya Hafid Instruksikan Penerapan Efisiensi dan Inovasi untuk Transformasi Digital
Kebijakan ini diharapkan dapat mendukung target pertumbuhan ekonomi China sebesar 5 persen pada 2024.
Dari sisi domestik, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa inflasi Indonesia pada November 2024 tercatat sebesar 0,30 persen secara bulanan, dengan inflasi tahunan mencapai 1,55 persen.
Sementara itu, inti inflasi tahunan berada di level 2,26 persen, sedikit lebih tinggi dibandingkan ekspektasi pasar sebesar 2,20 persen.
Baca Juga: Perbedaan Vasektomi dan Kebiri: Prosedur dan Dampaknya pada Kesehatan Pria
Meski inflasi tetap berada dalam target Bank Indonesia (BI) yaitu 2,5 persen plus minus 1 persen, pasar berharap BI dapat mengelola kebijakan moneternya untuk meredam volatilitas nilai tukar rupiah.